-->
  • Jelajahi

    Copyright © Media Online Sidik Jari
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Opini: "Tambora Dalam Paradigma Daerah Buangan!"

    10/08/2026, Monday, August 10, 2026 WIB Last Updated 2026-08-10T15:13:14Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Dok. Ilustrasi Opini



    "TAMBORA: DAERAH BUANGAN?"

    Pembahasan ini kita mulai dari sudut pandang geografis. Tambora adalah wilayah yang letaknya sangat jauh dari pusat kemajuan. Jarak yang membentang ini menciptakan ketimpangan yang nyata, mulai dari akses pemenuhan kebutuhan ekonomi hingga pengurusan administrasi.


    KETIMPANGAN EKONOMI DAN KEGAGALAN (KTM)


    Secara peta ekonomi, potensi hasil bumi dari petani dan nelayan di Tambora belum dimanfaatkan secara optimal. Keberadaan Kota Terpadu Mandiri (KTM) yang seharusnya menjadi pusat pengelolaan dan perbelanjaan masyarakat lokal, justru terkesan sia-sia. Akibatnya, perputaran uang dan budaya belanja masyarakat malah lari ke luar daerah Kabupaten Bima.


    Padahal, jika merujuk pada visi pembangunan saat ini, segala bentuk kebutuhan daerah seharusnya mengandalkan dan memaksimalkan potensi ruang lingkup daerah itu sendiri. Sekarang mari kita amati dengan cerdas: apakah program daerah yang berjalan hari ini sudah sesuai dengan jargon-jargon manis saat kontestasi politik lalu?


    PEMBANGUNAN YANG PRIMITIF


    Di sisi lain, potret pembangunan di Tambora selalu terjebak pada pembahasan yang primitif dan berulang, yaitu seputar "perbaikan jalan dan jembatan". Kita sering melihat pembukaan jalan ekonomi atau perbaikan jembatan yang dilakukan berkali-kali tanpa pernah merancang infrastruktur yang kokoh untuk jangka panjang. Pembangunan kita jalan di tempat, tanpa visi masa depan.


    PARADOKS POLITIK "TEMPAT PEMBUANGAN"


    Secara peta politik dan kebijakan, Tambora telanjur dicap sebagai tempat pembuangan. Wilayah ini kerap menjadi opsi terakhir untuk menempatkan figur atau tenaga kerja yang tidak mendapat ruang di wilayah lain. Tambora dianggap remeh, minim figur pemimpin, dan mudah diatur serta patuh pada instrumen politik penguasa. Paradigma merendahkan ini harus segera kita patahkan. Caranya adalah dengan membangun pondasi politik lokal yang kompak, tanpa harus saling menghakimi dan menjatuhkan.


    Selama puluhan tahun, kita tidak menyadari bahwa pergerakan politik di Tambora hanya berputar di lingkaran lama yang primitif. Sudah saatnya kita melihat kekuatan politik secara universal. Kita harus melihat peluang dan mendorong putra daerah sebagai keterwakilan sah yang akan memperjuangkan kemajuan Tambora di kursi kepemimpinan.


    MENATA MASA DEPAN POLITIK TAMBORA


    Secara politik, masyarakat Tambora juga masih terjebak pada figur individu masa lalu tanpa memikirkan ruang gerak kekuatan politik masa depan. Kepentingan umum sering kali dikesampingkan demi kepentingan personal. Sebagai evaluasi, mari kita lihat rekam jejak pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebelumnya. Minimnya keterwakilan putra daerah membuat jalur komunikasi dan kebijakan pembangunan untuk Tambora hari ini menjadi tidak efektif.


    Kita egois, sementara wilayah tetangga bergerak maju. Jika kita melacak ruang gerak politik wilayah tetangga, kekuatan mereka dibangun dari pondasi yang kokoh, baik secara politik maupun pembangunan jangka panjang. Di balik kuatnya akar politik mereka, ada konsep masa depan yang matang.


    Sudah saatnya kita berhenti saling menghakimi dan merendahkan kekuatan politik sesama warga Tambora. Ingatlah, kita terlahir dengan satu tujuan yang sama: membangun Tambora menjadi lebih baik.


    Penulis: Panggawa Tambora 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini