![]() |
| Dok. Ketua Sahabat Muda Tambora |
Penulis : Panggawa Tambora
Part : III
1. Kekuatan Dasar Politik Wilayah Tambora
Kecamatan Tambora memiliki lanskap politik yang unik dan berbasis akar rumput yang kuat. Kekuatan dasar politik di wilayah ini tidak hanya bertumpu pada jumlah pemilih, melainkan pada modal sosial, kedekatan kultural, dan kesadaran kolektif masyarakatnya yang tinggi terhadap perubahan. Struktur ini menjadi pondasi kokoh bagi lahirnya kepemimpinan yang legitimate dan mengakar. Mengingat selama Tambora Merdeka secara Peta Geografis tidak ada satupun Figur Putra/Putri Asli Tambora yang memimpin di tanah Tambora, berangkat dari itu, kita bisa membaca perkembangan Tambora, baik kepentingan Umum maupun kepentingan kelompok selama Dekade Kepemimpinan figur diluar dari Tambora, tentu hal ini menjadi acuan kita sebagai Masyarakat Tambora bisa membenah diri dalam memilih pemimpin. Mari kita kesampingkan dulu personal Figur mengingat ini adalah hal mendasar yang membuat kemunduran Tambora maka kita sama-sama mengedepankan dorongan Figur Putra/Putri Asli Tambora.
2. Dorongan Figur Putra/Putri Asli Tambora
Sudah saatnya Tambora dipimpin oleh mereka yang lahir, tumbuh, dan merasakan langsung denyut nadi kehidupan di kaki Gunung Tambora. Dorongan untuk memprioritaskan putra-putri asli daerah bukan sekadar sentimen primordial, melainkan sebuah kebutuhan mendasar agar pemimpin memiliki sensitivitas batin (sense of belonging) yang kuat dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat lokal. Sebab bisa kita lihat kekosongan Figur Tambora di ruang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bima menjadi faktor keterlambatan kemajuan Tambora baik dari sisi Pokok Pikiran (POKIR) DPRD maupun kebijakan Sosial, tentu ini menjadi PR besar bagi kita semua sebagai Pribumi Tambora yang hidup dalam keadaan terisolasi Kemunduran.
3. Mengedepankan Konsep Kepentingan Politik Secara Umum
Gerakan ini melepaskan diri dari sekat-sekat ego sektoral, kelompok, maupun ras tertentu. Fokus utama dari dorongan figur Putra/Putri Asli Tambora ini adalah kesejahteraan kolektif (bonum commune). Politik harus dikembalikan pada khitahnya sebagai alat perjuangan untuk menghadirkan pelayanan publik yang prima, pemerataan pembangunan, dan keadilan sosial bagi seluruh warga Kecamatan Tambora secara universal, Tampa adanya tumpang tindih kepentingan personal, sebab selama ini yang terjadi di kalangan penggerak Politik selalu berlawanan Kepentingan Politik sehingga Mengasingkan Kepentingan Umum, tentu ini adalah virus Politik yang akan melahirkan kesengsaraan Pembangunan, Sosial, dan Kebijakan berdampak.
Cek Part I : Opini: "Tambora Dalam Paradigma Daerah Buangan!"
Cek Part II : Mati di Tanah Buangan: Menggugat Janji Musiman dan Kekosongan Figur Tambora!
4. Membangun Gagasan Baru Tata Kelola Gerakan Politik Wilayah Tambora
Kehadiran figur Putra/Putri Asli Tambora membawa angin segar berupa inovasi dan modernisasi gerakan politik. Pola lama yang cenderung transaksional dan top-down harus digantikan dengan tata kelola gerakan yang transformatif, kolaboratif, dan inklusif. Pendekatan berbasis digitalisasi aspirasi, keterbukaan informasi, dan pelibatan aktif pemuda/mahasiswa akan menjadi motor penggerak baru pembangunan wilayah. Dibalik ini ada hal yang lebih penting yaitu kekuatan Merangkul, Menyatukan, dan Mendorong Figur Putra/Putri Asli Tambora, sebagai mana ini adalah bagian dari kekuatan Dasar Politik suatu Wilayah. Agar kedepan terpatahkan paradigma Tambora Daerah Buangan, dan Komunikatif atau Aspirasi yang jauh semakin mendekat/terdekat.
5. Mematahkan Paradigma Tambora Daerah Buangan
Selama bertahun-tahun, stigmata negatif menempatkan Tambora sebagai daerah pinggiran atau "tempat buangan" birokrasi dan Kepentingan Karir pekerjaan. Figur Putra/Putri Asli Tambora hadir dengan narasi optimisme untuk membalikkan sudut pandang tersebut. Dengan potensi agraris, pariwisata sejarah-alam, dan posisi strategisnya, Tambora di bawah kepemimpinan baru akan bertransformasi menjadi "Halaman Depan/Satu Langkah Lebih Maju", daerah yang mandiri, bermartabat, dan diperhitungkan secara Politik. Bertahun-tahun kita hidup dibawah instrumen kebodohan, mudah diatur, gampang di anulir oleh penguasa. Kejahatan ini mulai di budayakan, hampir hilang kekuatan Sejarah Tambora yang di kenal secara Mendunia.
