-->
  • Jelajahi

    Copyright © Media Online Sidik Jari
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Nengah Istiqomah: SMAN 9 Mataram Siap Harumkan Nama Daerah di Kancah Nasional

    15/06/2026, Monday, June 15, 2026 WIB Last Updated 2026-06-15T14:20:49Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    Di tengah Kota Mataram, sebuah sekolah yang baru berusia tujuh tahun sedang gigih membalikkan keadaan. SMA Negeri 9 Mataram, yang kerap dipandang sebelah mata sebagai sekolah "junior" dengan mayoritas siswa dari lingkar ekonomi menengah ke bawah, perlahan tumbuh menjadi episentrum prestasi baru di Nusa Tenggara Barat. Di tengah keterbatasan fasilitas, sekolah ini justru sukses mengantarkan para siswanya menembus barikade ujian perguruan tinggi hingga melangkah ke pelataran Istana Negara.


    ​"Fasilitas seni kami boleh dikata nihil," ujar Kepala SMAN 9 Mataram, Nengah Istiqomah, M.Pd., saat berbincang dengan awak media Namun, di tangan Nengah dan para pengajar, ruang kosong sarana tersebut justru dijawab dengan ledakan kreativitas siswa.


    ​Tengok saja dinamika yang terjadi setiap akhir pekan. Di bawah pengawalan Wakasek Kesiswaan Saiful Hamdani, sekolah ini menghidupkan "Sabtu Budaya" sebuah panggung tempat ruang kelas menjelma menjadi teater kebudayaan. Anak-anak bersahabat dengan keterbatasan mereka berpatungan, memboyong pakaian adat Lombok, Bali, hingga merajut sendiri kostum Barong dan Hanoman dari rumah.


    ​Oleh Nengah, geliat ini diramu menjadi sebuah metodologi praktik baik (best practice) yang ia bukukan dengan judul Gerakan ELIDA (Gerakan Literasi Budaya). Sebelum naik pentas, siswa diwajibkan mendalami literatur, meriset sejarah, dan menyatukan visi kelompok. Hasilnya impresif. Rapor Pendidikan mereka meroket skor literasi menyentuh angka 95,1 persen dan numerasi bertengger di angka 91,1 persen. Sekolah menjadi oase yang nyaman, jauh dari riuh tawuran yang jamak mewarnai potret pendidikan kota.


    ​Bagi siswa di SMAN 9 Mataram, mimpi kuliah sering kali terkubur oleh bayang-bayang kendala finansial dan rasa tidak percaya diri. Di sinilah para guru mengambil peran sosiopedagogis yang karib. Mereka bertaruh lewat motivasi, berjuang keras meyakinkan anak-anak bahwa takdir ekonomi dapat diubah melalui meja kelas.


    ​Sadar bahwa era digitalisasi membutuhkan siasat taktis, sekolah mengambil langkah agresif. Pihak manajemen menjemput bola dengan menggandeng Rumah Belajar (RBR) Balai Bahasa untuk membedah anatomi soal Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Hasilnya konkret. Tahun ini, lebih dari 100 siswa SMAN 9 Mataram dipastikan menembus Perguruan Tinggi Negeri. Sebanyak 64 anak mengamankan kursi di Universitas Mataram, sementara sisanya tersebar di kampus-kampus elite sekelas Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, hingga Universitas Udayana.


    ​Lompatan ini sekaligus menegaskan bahwa sekolah berakreditasi B pun mampu memproduksi lulusan berspesifikasi tinggi. Dinamika tersebut juga yang mengantarkan SMAN 9 Mataram terpilih sebagai Sekolah Penggerak Angkatan ke-3, bersanding dengan nama-nama besar yang jauh lebih senior. Bahkan di lini pengajar, mereka mencetak sejarah lewat Pak Ardi, Guru Penggerak Angkatan Pertama di Mataram yang performanya sempat ditinjau langsung oleh Direktur Kemendikbud.


    ​Taji sekolah di tengah kota ini kian runcing di kancah nasional. Barisan Paskibra mereka baru saja mengunci gelar Juara 1 Lomba Kreasi Baris-Berbaris (LKBB) yang dihelat MPR RI tingkat provinsi. Langkah 15 anak ini kini dikawal oleh legislator Senayan, Haji Didik, bersiap menuju Jakarta. Di saat yang sama, seorang siswa bernama Gilang sedang berjuang dalam jajaran elite seleksi paskibraka menuju Istana Negara melanjutkan tradisi emas kakak kelas mereka yang tahun lalu menembus korps musik Gita Bahana Nasional di hadapan Presiden.


    ​Puncaknya, kementerian terkait menganugerahi SMAN 9 Mataram sebagai satu-satunya SMA di Bumi Gora yang menyandang predikat resmi Sekolah Ramah Anak (SRA) setelah melalui audit ketat. Sebuah pencapaian manis, mengingat secara fisik, sekolah ini masih menghadapi kendala besar.


    ​Hingga hari ini, SMAN 9 Mataram belum memiliki laboratorium komputer yang representatif, ruang laboratorium IPA yang utuh, maupun perpustakaan berstandar nasional. Akreditasi B yang mereka sandang saat ini adalah penanda dari belum memadainya infrastruktur fisik, bukan kualitas intelektual manusia di dalamnya.


    ​Kepada awak media, Nengah Istiqomah menyampaikan harapan terbuka bagi Pemerintah Daerah. Sejak rombongan sekolah ini menyetujui relokasi gedung beberapa tahun silam, ada janji pemenuhan fasilitas yang dinantikan. "Kami siap bertarung membawa marwah daerah ke tingkat nasional," kata Nengah mengakhiri percakapan, "asalkan pemerintah juga seimbang dalam memberikan hak fasilitas yang setara bagi anak-anak didik kami,” 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini