Setelah menang dengan hasil aklamasi, kini Forum Komunikasi Mahasiswa Sila (Formasi Mataram) menginginkan ada pergeseran paradigma dan cara pandang, yakni dari aksi jalanan ke perbanyak diskusi, simposium dan dialog
Ketua formasi terpilih Muh. Rizkikal Aulia dalam sambutannya menyampaikan, formasi adalah organisasi bersama, yang harus mampu melihat peradaban, dan mampu membaca peluang. Peluang yang dimaksud adalah formasi harus tampil beda dengan paguyuban lain. Percaya kader dengan diskusi dan dialog produktif
“Ruang pertemuan kita saat ini adalah kedai dan cafe maka, bisa kita manfaatkan meja itu dengan hal-hal produktif,” kata pria yang akrab disapa Rizki ini. Rabu, (20/5/26)
Mahasiswa Semester enam ini menjelaskan, pada era 1998 gerakan atau aksi jalanan, mimbar jalanan telah menjadi momok yang menakutkan bagi kekuasaan. Sedangkan tahun 2026 sekarang, hal demikian sudah tidak relevan dengan zaman, karena media sosial sudah siap menjadi alat untuk menyampaikan aspirasi. Oleh karenanya, hal-hal yang membuat produktivitas diri dan kelompok. meja kopi dan kedai lebih menjanjikan
“Ini zaman kita, yang tentu bukan zaman mereka, sekarang sudah beda,” jelas Rizki
Ia juga berharap kepada semua pengurus yang akan dilantik untuk sama-sama menyukseskan hal yang baik dinginkan. Kendati semua itu demi kemajuan Formasi Mataram.
Terakhir, sebagai putra Nusa Tenggara Barat, Rizki mengajak semua Mahasiswa Sila Mataram untuk ikut mendukung program pemerintah, baik pada tingkat Kecamatan, Kabupaten sampai Pemerintah Provinsi NTB. Karena menurutnya, tiga dari sepuluh program yang dicanangkan pemerintah Provinsi NTB sangat bagus. Misalnya Ketahanan Pangan, Desa Berdaya pengentasan Kemiskinan ekstrim, dan lain-lain.
“Bagi saya program pemerintah itu bagus, dan semua itu harus kita kawal dan kita dukung bersama demi NTB yang maju,” ujarnya
